[Hari pertama - Solid]
"Maaf, tapi aku sudah punya suami."
Ku dorong kembali karangan bunga darinya. Sunyi, tak ada suara begitu juga gerakan, pria itu membatu dengan posisi membungkuk menghadap tanah bersama kedua tangan yang menyerahkan karangan bunga padaku.
"Umm....Marlin? halo?"
Ku intip kebawah melihat kedua matanya yang masih tertutup rapat seperti membeku, berulang kali ku panggil namanya namun tak ada jawaban dari mulutnya, kutepuk berkali-kali bahunya tapi tak ada respon, bagai sebuah manequin di etalase toko, tak bergerak, tak bersuara, dengan wajahnya yang begitu pucat.
(Gawat! apa aku membunuhnya?!)
"Marlin! Marlin! Marlin!" Ku goyang-goyangkan tubuhnya tetap tak ada respon.
Setelah melakukan berbagai bercobaan, tubuhnya terlihat sedikit gemetar.
"Marlin? kau gapapa-" Kalimatku tertahan dan tak terselesaikan setelah melihat sebuah tetesan air mata yang membasahi sepatu pantofel miliknya. Aku pun tersadar, Marlin bukanlah tipe pria yang suka pakaian formal atau yang bergaya dan berkelas, ia juga selalu mual ketika mencium aroma parfum apapun, dulu dikelas ia juga dikenal sebagai pemalas yang kerjanya cuma tiduran dan rambut acak2an adalah ciri khas miliknya.
Namun setelah 3 tahun tak bertemu,
Ia tiba-tiba mendatangiku dengan aroma parfum lavender kesukaanku, memakai jas hitam dengan jam tangan mewah, rambut tertata rapi, bahkan ia juga menjadi jauh lebih tinggi dariku padahal dulu ia hanya sampai se bahuku. Mulai dari ujung kaki hingga ujung ramput membuatku hampir tak mengenali siapa pria tampan ini, ia benar-benar perwujudan sempurna dari pria yang ku dambakan.
Ku buka tas selempangku dan mengeluarkan sebuah minuman susu kotak kesukaanku dan seingatku secara kebetulan Marlin dulu mengaku menyukainya juga. Tanpa permisi kumasukkan susu kotak itu ke dalam saku celananya dan mengusap lembut rambutnya sambil berbisik.
"Makasih, ganteng."
Langkah demi langkah kedua kakiku membimbingku pulang kerumah, meninggalkannya sambil melempar harapan egois semoga persahabatan kita takkan luntur, di pertemuan selanjutnya semoga kau masih bisa membuat senyuman yang sama seperti waktu kita SMA dulu.
Setelah keluar dari tengah-tengah kerumunan orang di taman aku melihat Tania si adik kecilku yang berusaha mengintip ke dalam kerumunan itu.
"Kakak!" teriaknya sambil mengangkat kedua tangan kecilnya.
*Haahhhh
Menghela nafas panjang
"Kamu ini udah kelas 3, udah SD loh, kok masih manja aja sih."
Ia terlihat sama sekali tak ada niatan menurunkan kedua tangannya.
"Dasar anak Mama.... Sini." Tak ada pilihan akupun menggendongnya kebelakang dan membawanya pergi dari taman.
Tania hanya diam dan akupun juga tak ingin membuatnya berbicara karena ia tak pernah tau kapan untuk berhenti ketika sudah mulai berbicara. kunikmati ketenangan ini dan menyebrangi jalan dengan santai tanpa gangguan hingga saat sampai di sebrang jalan Tania menepuk bahuku dan bertanya,
"Hey, kak."
"Hmm?"
"Bukannya itu kak Marlin?"
Ku balikkan badan dan langsung terkejut saat melihat seluruh badannya basah kuyup dari pancuran air di taman dengan jas yang ia selempangkan di bahunya dan mengacak-acak rambut rapinya, iapun tersenyum padaku sekilas aku seperti melihat Marlin sewaktu SMA.
"ANNA!" Teriaknya dari sebrang jalan.
Sebelum kujawab sebuah susu kotak melayang ke arahku dan berhasil kutangkap, dengan pertanyaan yang memenuhi kepalaku ia langsung menjawabnya sebelum mulutku berbicara.
"SEBENARNYA GUA G SUKA SUSU! GUA LEBIH SUKA TEH!" Ia melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil sport bmw berwarna hitam dan pergi begitu saja.
(Kalo g suka ngapain ngaku suka susu, bodoh banget dh. Tapi, syukurdah dia sama sekali g berubah ternyata, masih Marlin yang kukenal dulu..)
Ku berikan susu kotak itu ke Tania untuk menyumbat mulutnya sebelum mengeluarkan ratusan pertanyaan yang tak ingin jawab, tak sampai beberapa langkah tiba-tiba HP ku bergetar.
(SMS?)
Menghentikan langkah membaca SMS lalu menghela nafas panjang.
(Ya Tuhan ku tarik ucapanku! kuharap orang ini segera berubah, astaga!)
Isi SMS yang dikirim Marlin : (Ann, aku pinjam kaosmu ya, sekalian mau numpang mandi juga dan makan, kartu kreditku ketinggalan dan dompetku basah sama isinya, lagi mager balik ke hotel yang kejauhan. Oke? makazeh, sampai ketemu di rumah. *Emot Senyum sok imut*)
Sebelum kumasukkan kembali HP ku kedalam kantong benda itu kembali berbunyi lagi,
(SMA lain? Oh ternyata cuma E-Mail dari Marlin....... Eh bentar, darimana dia tau nomor dan E-Mailku?)
Isi E-Mail dari Marlin : *Hanya sebuah foto selfienya di dalam kamarku sambil memperlihatkan buku diary yang sudah kusembunyikan dengan aman dalam bantal*
Kututup dan kumasukkan HP ke dalam saku perlahan dan mengambil ancang-ancang berlari. Tanpa memperingatkan Tania ku tancap gas berlari sekuat tenaga pulang kerumah. Melesat jauh menerobos gerombolan orang lalu lalang di tepi jalan, mengabaikan segala ocehan orang hanya demi menyelamatkan harga diri serta martabatku.
*Wussshhh
Menyatu dengan angin, semakin cepat ku berlari semakin tak terdengar suara orang-orang, hanya terdengar suara angin yang membimbingku menuju jalan pulang. Jantungku berdetak begitu cepat, tak bisa kulepaskan senyuman lebar di wajahku, nafasku mulai terengah-engah namun perasaanku semakin bahagia dan tanpa kusadari aku pun sudah tertawa lepas.
Cepat!
Cepat!
Sangat Cepat!
Tak ada yang lebih cepat dariku!
Membuatku teringat masa-masa sewaktu aku SMA dulu, saat aku masih mengikuti ekskul lari. hari-hari dimana aku selalu berlari dan menikmati setiap latihan pagi dengan Marlin yang selalu menyemangatiku dari pinggir lapangan setiap saat.
*Dap!
Tali sendalku putus dan membuatku langsung tersungkur di tanah, Saat aku panik dan langsung berdiri mencari adik kecilku yang ternyata tak bersamaku. Tiba-tiba sebuah mobil taxi terhenti tepat di sampingku, ketika aku bertanya-tanya pintu itu terbuka dengan serndirinya dan terlihat Tania didalamnya sedang duduk manis menikmati susu kotaknya dan menepuk-nepuk kursi kosong disampingnya mengajakku masuk.
(Nih bocah! ditinggal baca sms bentaran doang udah ngilang, balik-balik bawa taxi lagi! bocor-bocor dah uang bulananku, untung aja masih ada uang tabungan rahasiaku buat keadaan darurat.)
Tanpa banyak bicara akupun langsung masuk untuk lari dari pusat perhatian semua orang, jatuh tersungkur setelah lari-larian padahal udah besar tentu saja hal itu cukup menarik perhatian semua orang. Kututup pintu mobil dan menyuruh sang sopir menjalankan mobilnya sambil menundukkan kepala menahan malu setengah mati.Sambil mensruput manja susu kotaknya, Tania mengelus elus kepalaku mengcoba menghiburku tanpa satupun kata.
Terdengar suara sang Sopir yang menahan tawa mengintip pemandangan bocah SD kelas 3 yang sedang menghibur wanita dewasa umur 21 tahun. Inginku ku berkata kasar pada pak sopir namun apalah daya wajahku yang tak sanggup ku lepaskan dari kedua tanganku menahan rasa malu yang semakin menjadi.
(YA TUHAN! GINI AMAT HIDUPKU!)
Sesampainya dirumah kutemukan Marlin sedang menonton TV bersama Mama dan Papa dengan tenang di ruang keluarga.
"Sampai juga lu ,Ann. Lama banget lu, mampir ke las vegas ya?"
*Tap
*Tap
*Tap
Langkah yang kuat, cepat dan mengerikan tertuju langsung ke arah Marlin dan memeras kedua bahunya ketika sampai.
"A-A-Am-ampun! Tenang aja gua g baca kok! Sumpah! Suer! kalo gua bohong silahkan cium gua dah!"
"Mulutmu! Sumpah g baca kan?!"
"Sumpah! g percayaan amat sih kapan sih gua bohongin elu?"
Seketika otakku flashback dan mengingat kembali kapan dia pernah jujur padaku, dan hasilnya nihil.
Mama dan Papa terdiam menatapku dengan penuh tanda tanya di wajah mereka.
"Bukan apa-apa!" jawabku kepada mereka sebelum bertanya dan pergi meninggalkan ruangan, sejauh aku berjalan mundur meninggalkan ruangan dengan terbata-bata seperti robot Marlin terus menatapku.
Setelah meninggalkan ruang keluarga dengan suasana canggung aku berlari menuju kamar.
Masuk dan langsung melempar tubuhku ke atas kasur empuk sambil menatap langit-langit kamar memikirkan segala hal yang mungkin bisa terjadi, atau bahkan yang tidak mungkin terjadi. Seandainya jika waktu itu yang datang adalah Marlin apakah dia lah yang akan menjadi suamiku saat ini?
Ku tatap sebuah cincin pernikahan di jariku,
Walaupun begitu aku sama sekali tak merasa menyesal akan pernikahanku. Hanya berpikir, jika saja.
*Tok
*Tok
*Tok
Imajinasiku hancur begitu saja saat mendengar ketukan pintu kamar, dengan beratnya ku tinggalkan kasur nyamanku untuk membuka pintu itu yang tak lain ternyata dibaliknya hanyalah seekor Marlin.
"Kenapa?" Jawabku bete.
"Enggk, gua cuma mau nanya kapan 'my beloved husband' pulang?" dengan wajah polosnya ia menyebut suamiku persis seperti yang tertulis di dalam buku harianku.
"L-L-LU?!" ku berlari mengambil bantal dan saat hendak kulempar tiba-tiba Marlin sudah memegang pergelangan tanganku,
"Cuma bercanda, gua kesini cuma mau ngasih ini dan pamitan aja." ia menunjukkan sebuah kotak Hansaplast bergambar kucing coklat di dalam kantong plastik transparan di tangan kirinya.
"Hansaplast?"
"Lututmu..., lu pasti bakal ngomong 'cuma luka segini doang bukan masalah!' tapi tetap saja lu itu perempuan, Perempuan itu harus ngerawat tubuhnya baik-baik jangan sampe luka ato sampe ninggalin bekas luka." Tanpa peringatan ia langsung mendorongku jatuh ke kasur dan membersihkan luka di lututku lalu menutupnya dengan hansaplast.
"Sakit?"
"Enggk, sama sekali. gua bahkan g ngerasa kalau luka." benar, aku tak merasakan apapun walaupun darah mengalir keluar hingga menggenang ke kakiku namun aku tak merasakan sedikitpun rasa sakit.
(Aneh banget, kok g kerasa sakit ya?)
"Terserah dah, pokoknya udah ku kasih perawatan pasti aman." gumam Marlin sambil membereskan semua perlengkapan.
"Thanks, Mar. Pasti bakal ku balas kebaikan lu."
"G usah dipikirin. lagian ini semua gua beli pake uang simpananmu di lemari kok."
"SI ANJ-" Marlin menepis tendanganku dengan wajah yang tiba-tiba menjadi serius.
"Anna, kalau ada apa-apa segera hubungi gua ya. Berjanjilah padaku, Annastasya."
Kuanggukkan kepalaku perlahan dengan heran dan ia langsung tersenyum lega melepaskan kakiku,
Setelah itu Marlin pamit pulang ke hotelnya. Sangat mengejutkan, Tania ternyata masih ingat kepada Marlin, mereka berdua terlihat begitu dekat tak berbeda dari dulu, sedangkan Mama dan Papa tetap menyambut hangat Marlin dan menganggapnya seperti anak mereka sendiri. Kehadiran Marlin membuatku seakan kembali ke masa lalu dimana aku masih SMA dipenuhi rasa jengkel setiap bertemu dia, namun walaupun begitu dia adalah sosok yang tak tergantikan bagi keluargaku.
Kepergian Marlin membuat suasana rumah seperti sedia kal, semua orang membicarakan masa-masa Marlin yang pendek, egois dan pemalas yang berubah menjadi tinggi, tampan dan begitu sopan. karena pembicaraan hanya diisi oleh nama Marlin akupun pergi ke kamar sambil menanti kepulangan suamiku yang katanya sedang dalam perjalanan pulang.
Berbaring di atas kasur hangat, menatap langit-langit teringat perkataan Marlin. Sampai tak terasa aku sudah tertidur lelap.
Gelap,
Sunyi,
Dingin,
*Tik
*Tik
*Tik
Suara tetesan air keran wastafel,
"HAH?!"
Aku terbangun dengan kaget, ku temukan diriku di meja makan. Seisi rumah begitu gelap, seluruh lampu di matikan, seluruh jendela ditutup begitu juga gorden tebal yang menutupinya. Ruangan terasa sangat dingin karena AC.
*Tik
*Tik
*Tik
Sebuah tetesan air mendarat di atas meja makan tepat aku menatap, walau tanpa cahaya akupun tau kalau itu bukanlah air. Dari baunya akupun langsung mengenalinya, itu bau darah dan akupun juga mengingat dengan jelas siapa yang menggelantung di atasku saat ini.
Tak lain adalah adikku sendiri, Tania.
walaupun ruangan dipenuhi bau amis darah, diselimuti kegelapan dan mayat namun aku tak merasakan takut ataupun berdebar-debar. Aku begitu stabil dan tenang. mungkin karena aku sudah terbiasa.
(Ini hanyalah mimpi.)
Tanpa membuang waktu sebelum dia pulang aku langsung berdiri mencuci piring-piring kotor didapur tanpa penerangan, aku takkan membuka jendela ataupun menyalakan lampu karena dilarang olehnya.
*Ctar!
Piringnya terjatuh dan menjadi pecahan kecil yang tersebar dilantai, dalam gelap ku meraba-raba lantai mengumpulkan pecahan kaca itu hingga tak sengaja menggores jariku,
"Aduh!"
Sebuah darah mengalir keluar dari luka itu, terasa begitu pedih dan perih namun kutahan sampai selesai membersihkan lantai. Karena kurangnya penerangan lagi-lagi jariku tersayat kaca.
"Aduh!"
Lagi,
"Aduh!"
Lagi,
"Ugh!"
Dan lagi, Rasa pedih itu semakin banyak dan syukurlah aku sudah selesai membersihkan lantai dan bisa langsung mengobati lukaku, ku bersihkan lukaku dan mengambil kotak P3K lalu mengeluarkan sebuah kotak Hansaplast bergambar kucing coklat, ku lilitkan satu persatu hansaplast sambil menahan rasa perih. Jam menunjukkan pukul 5 sore, sudah saatnya dia pulang dan sudah saatnya aku menyambutnya didepan pintu.
Saat berjalan aku terhenti dikamar Mama dan Papa melihat pintu yang masih terbuka,
(Perasaan pintu itu sudah kututup? apa belum ya?)
Tak ingin membuang waktu memikirkan hal yang percuma, akhirnya kututup pintu kamar itu agar bau busuk dan amisnya tak keluar dan memenuhi rumah.
"Selamat Malam, Mama, Papa, bentar lagi dia pulang jadi aku tutup dulu ya pintunya."
*Ceklak
Kukunci dengan rapat pintu kamar itu dan memasukkan kuncinya ke dalam sakuku.
*Tap
*Tap
*Tap
Terdengar suara langkah kaki dari luar pintu,
Dengan perasaan gembira sambil tersenyum aku berjalan dan berdiri di depan pintu menunggu orang itu membukanya dari luar.
*Klak
Saat pintu itu terbuka dengan lembut aku menyambutnya,
"Salamat datang, Sayang."
-----------------------------------
Sepercik cahaya masuk melalui celah pintu yang terbuka, menyinari sesosok wanita cantik yang menyambutnya di depan pintu dengan senyuman lebar dan tatapan kosong. wanita itu merentangkan kedua tangan menunggu pelukan hangat darinya dengan tubuh yang dipenuhi bercak darah.
waktu itu wanita itu masih belum menyadari kalau dalam mimpi ia tak bisa merasakan rasa sakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar