Senin, 07 Februari 2022

Masih Bermimpi - Hari kelima

 [Hari kelima - Perjamuan]

Di lampu yang redup dan berkedip-kedip jari jemariku bergerak diatas keyboard hp sementara kubiarkan Kak Anna pergi untuk berganti baju. 

*Tak! Tak! Tak!

jari jemariku menari-nari membentukkan arti dari dalam hati dan mengukirnya di dalam catatan kecil dalam Hp.

"Siapa kau?"

*Tak!Tak!Tak!

Keyboard itu bergerak dengan sendirinya, 

"Entahlah, aku juga tidak tau."

*Tak! Tak! Tak!

"Siapa 2 orang yang kamu maksud barusan?"

*Tak! *Tak! *Tak!

"Entahlah, aku juga tidak tau."

 "Apa yang terjadi pada mereka?"

"Entahlah, aku juga tidak tau."

"Lalu kenapa aku harus menyelamatkan mereka?"

"Agar kau selamat."

 "Apa maksudnya? apa aku akan mati begitu?"

"Saat dia kembali, kau takkan pernah bisa kembali."

"Apa maksudnya aku tidak bisa kembali? Siapa yang akan kembali?"

"Hey?!"

"Hallo?"

"Jawaban aku?!"

"Siapa kau sebenarnya?"

Tak ada jawaban, apakah ini hanya candaan atau sebuah mimpi? aku juga tidak tau. Mataku kembali melirik kertas yang bergambar 2 orang itu, walaupun cukup samar namun hanya itu petunjuk yang kupunya, tapi seketika aku terkejut.

ku pikir aku salah lihat,

Dalam sekejap ku ambil kertas itu dan melihatnya dari dekat, ternyata aku tidak salah lihat. salah satu orang dari gambar itu di coret-coret seakan dihapus dengan krayon berwarna merah dan hanya menyisahkan satu orang. 

(Apa ini?!)

(Apa ini?!)

(Apa-apaan semua ini?!)

Lampu mulai berkedip-kedip, dengan pencahayaan yang redup, dan udara yang sangat dingin yang baru saja kusadari membuat seluruh otakku tak bisa bekerja dengan baik. Jantungku tiada henti berdetak begitu kencang ketika layar hpku mati tercerminkan wajahku yang begitu pucat. 

(Cukup! ini sama sekali tidak lucu!)

Ku masukkan Hp ke dalam tas kecil selempangku dengan tangan yang tak bisa berhenti gemetaran, ketika meninggalkan ruang tamu aku melihat seluruh ruangan di dalam rumah itu sangat gelap tak ada satupun lampu yang menyala kecuali di ruang tamu, seluruh jendela dan gorden juga tertutup membuat tempat ini menjadi gelap sempurna seakan memandang kehampaan.

*Glek

Menelan ludahku sendiri dan berteriak pamit ke kak Anna yang entah sedang ada dimana.

"Kak Anna aku pulang dulu ya! maaf aku ada urusan tiba-tiba!"

Tak ada jawaban...

(Pokoknya aku sudah pamitan...sekarang..)

Ku raba dan ku ambil sepatuku di dalam rak dan memutar gagang pintu,

*Krak!

(Huh?!)

*Krak! Krak! Krak!

(Terkunci?!)

Anna :"Percuma."

"Hah?!" Dengan kaget kujatuhkan sepatu di tanganku.

Tiba-tiba muncul suara dingin Kak Anna dibelakangku saat aku berbalik ternyata memang dirinya sambil membawa pisau dengan tatapannya yang kosong dan tak berkedip sama sekali, seluruh pandangannya tertuju padaku, tatapan yang seakan langsung mengarah ke jiwaku.

Tanpa sadar kakiku sudah melangkah mundur menjauh darinya hingga menyentuh pintu. 

"Tapi tenang aja, bentar lagi suamiku pulang dan bisa bukain pintunya, oleh karena itu Paula ikut makan disini aja makin rame makin bagus kan? tapi sebelum itu bantu Kakak masak ya.... udah lama kakak enggk masak banyak jadi butuh bantuan."

Tiba -tiba Kak Anna kembali ceria lagi, pergantian sifatnya sangatlah bertolak belakang, seakan 2 orang yang berbeda membuatku semakin takut. Dengan kembalinya Kak Anna seperti biasanya membuatku bisa sedikit lebih rileks, setidaknya ada yang bisa di ajak bicara. namun tetap bukan berarti semua kekhawatiran serta rasa ketakutan yang kupunya semuanya menghilang. 

Sebelum kita menuju dapur ku taruh kembali tasku diruang tamu dan Kak Anna mematikan lampunya saat aku sudah keluar.

*Tap!

*Tap!

*Tap!

Kami berdua berjalan menuju dapur sambil mendengarkannya berbicara tanpa henti sedangkan aku hanya bisa menunduk dan mendengarkan saja. Keringatku terus mengalir dari dahi, ku pegang ujung kaos Kak Anna sambil menutup mata dengan sangat rapat. Seluruh indra dalam tubuhku menyadarinya, aku tak tau apa yang sedang Kak Anna bicarakan karena aku sedang fokus mendengar hal lain.

Bukan suara kak Anna tapi suara langkah kaki, dan itu bukan suara langkah kaki milik kami berdua melainkan sesuatu yang mengikuti di belakangku sejak keluar dari ruang tamu tadi.

"Kak Paula!" terdengar bisikan kecil dari belakang,

(Aku tidak dengar apa-apa!)

 "Kak Paula!

(Aku tidak dengar apa-apa! Aku tidak dengar apa-apa!)

"Kak Paula!"  

( Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak-)

"Paula?!"

"Hah?!" saat ku buka kedua mataku ternyata Kak Anna,

"Kamu kenapa? kamu keliatan pucat gitu? apa kamu sakit? Kalau gitu mending istirahat aja biar kakak aj yang urus disini." 

"Enggk! gpp kok Kak Anna, sebenarnya aku takut dengan tempat-tempat gelap, jadi..."

"Oh!" Kak Anna langsung menyalakan lampu,

"Maaf ya, kebiasaan. aku kurang peka." Katanya sambil tersenyum lepas,

"Gpp kok, kak Anna. Maaf merepotkan. Ngomong-ngomong kapan suami kakak pulang?"

(Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!)

"Segitunya ya pengen cepat-cepat makan? dasar, luarnya cantik tapi tetap aja rakus seperti biasa." 

"Jangan bercanda dong, kak."

"Hahahaha, iya, iya maap, dia selalu pulang jam 5 kok dan sekarang masiiiihhhhh *Kak Anna melihat jam* Jam 4, masih ada waktu 1 jam. cukup banget sih waktunya." Semangat Kak Anna tiba-tiba melonjak membara sambil menggulung lengan kaosnya bersiap berperang.

Ku ikuti setiap arahan dari Kak Anna sambil terus berusaha sekuat mungkin menghiraukan bisikan-bisikan yang terdengar di kedua telingaku. Pekerjaan ternyata lebih mudah dari yang kukira, semua bahan sudah siap dan hanya tinggal memasaknya saja. Menunggu sampai matang kami pun duduk di meja makan menghela nafas istirahat bersama. 

Pekerjaan selesai sekitar 30 menitan, mungkin karena aku terlalu fokus aku sampai tak menyadari suara bisikan itu tak lagi terdengar. 

Jika semua yang makhluk itu katakan benar, mungkin yang ia maksud dari 'dia' adalah suami Kak Anna, aku tidak tau seperti apa dia dan tak pernah mendengar apapun dari kak Marlin namun dari apa yang dikatakan makhluk itu dia bukanlah orang yang baik sepertinya.

Kulihat jam dinding untuk memeriksa perhitunganku untuk membuat rencana mencari celah pergi menyelamatkan pria yang dimaksud makhluk itu. 

(Hah?!)

Seketika harapan dan rencana yang baru saja aku buat langsung hilang tanpa sisa dan melemparku ke jurang keputusasaan.

(Jamnya tidak bergerak?) 

Jam masih tetap menunjukkan pukul 4, dengan kata lain jamnya sudah tidak berfungsi sejak jam 4. 

Berapa waktu yang tersisa? Apa yang akan terjadi? Alasan apa yang harus kubuat untuk keluar dari pengawasan Kak Anna? 

Dengan perut kosong, dan kepanikan tanpa henti kupaksa otakku berpikir sekuat mungkin sampai akhirnya muncul satu ide yang bisa membuatku keluar dari pengawasan Kak Anna walaupun hanya sebentar.

Ku beranjak dari kursi sambil berkata,

"Kalau gitu aku panggil Tania dulu ya kak."

(Benar, dengan memanggil Tania untuk memanggil bantuan, mendapat kawan, dan memberiku waktu untuk menjelajah rumah ini mencari pria itu jika aku menghabiskan waktu yang lebih lama dari seharusnya aku bisa beralasan tak bisa menemukan kamar Tania. Sip ini adalah rencana sempurna.)

Saat aku hampir berdiri sepenuhnya Kak Anna mengatakan sesuatu yang membuat seluruh badanku membeku tak bisa kugerakkan.

"Apa maksudmu? bukannya Tania dari tadi dibelakangmu?" 

Lagi - lagi suara bisikin itu terdengar kembali,

"Kak Paula."

(Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan-) 

*Cekrak!

Suara kunci pintu terbuka,

Disaat yang sama Kak Anna berdiri dengan wajah gembira,

"Akhirnya yang ditunggu tiba juga, selamat datang, sayang," Ucap Kak Anna ke belakangku.

(Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!)

Paula menoleh kebelakang.

Marlin tak datang tepat waktu,

Pintu rumah itu kembali tertutup, tak terdengar suara apapun di dalam sana, hanya keheningan dan seluruh lampu di rumah itu semuanya kembali padam termasuk lampu dapur.

30 menit telah terlewat sejak kedatangan Marlin, mereka menganggap rencana penyelamatan Paula telah gagal dan mengirimkan tim lain untuk melanjutkan misi ke tahap selanjutnya.




 

 

 

 

  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar