[Hari Kedua - Keju]
Sudah berapa jam berlalu sejak keberangkatannya? 8 jam? 10 jam? waktu terasa begitu lambat tanpa kehadirannya. Gelisah menanti kepulangan suami tercinta saat tak ada lagi pekerjaan yang harus dikerjakan adalah momen paling membosankan dalam hidup. Duduk membaringkan kepala di atas meja makan sambil melirik jam dinding.
Jam menunjukkan pukul 9 pagi, sudah 7,200 detik sejak keberangkatannya. masih tersisa 28,800 detik lagi sampai dia pulang.
(28,799.......28,798.......28,797....)
Gumaman kecilku menggema ke seisi ruangan, begitu sepi dan sunyi. Seluruh pikiranku dipenuhi oleh angka yang terus berkurang, seluruh hatiku dipenuhi rasa tak sabar menanti kepulangannya, kedua tanganku gatal ingin segera memeluknya.
Kini tak ada lagi suara tetesan apapun, sangat sunyi sampai terlalu sunyi bahkan aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri yang semakin kencang saat angka yang kuhitung semakin berkurang.
"Aku harap anak ini juga ikut merasakan kebahagiaan yang kurasakan saat ini." Ku elus lembut perutku sambil memandangi foto suamiku di dinding.
(28,589.....28,588....)
Tiba-tiba aku terpikirkan ide brilian dan langsung berdiri penuh semangat,
"Benar juga, aku harus menyiapkan makanan kesukaannya saja biar dia terkejut."
Berjalan ke arah kulkas sambil melompat-lompat kecil bahagia,
"Dan untuk membuatnya hal terpenting adalah...... Keju!"
*Klak
Saat kubuka kulkas tak terlihat satupun keju yang tersisa,
"Hmm? bisa minggir dulu tidak, Tania?"
ku periksa di belakang Tania namun masih tak dapat kutemukan sisa keju yang ada. Seketika mood ku langsung terjun dan menjadi instant bad mood.
(Pasti dia diam-diam makan kejunya pas malam-malam, dasar. Padahal udah aku bilangin jangan di makan kok.)
*Hahhhhh
Menghela nafas panjang sambil menutup kulkas kembali,
"Yaudahlah, marah juga g bakal bikin kejunya muncul lagi, lagian mana sanggup aku marahin dia, mending waktu marahnya dipake jailin dia lebih seru."
Mau tak mau aku harus menyerah membuat kejutan untuknya namun disisi lain jauh di dalam hatiku tak ingin menyerah dan bersikeras membuat kejutan itu.
Jika begitu, ada 1 pilihan untuk mencapainya.
(Ini mungkin akan menjadi pertama kalinya aku melanggar larangannya, tapi ini juga terjadi karena dia melanggar larangankukan? jadi..... dengan kata lain..... impas kan?)
Mencoba meyakinkan diri selagi bersiap-siap untuk keluar rumah untuk pertama kalinya, selesai mandi, ganti baju dan membawa perlengkapan dalam tas, ku lihat sosok wanita yang terpantul dalam cermin di depanku.
Gaun one piece putih elegan, kulit putih lembut bersinar seakan menyatu dengan gaun yang kupakai dan tak lupa payung hitam yang akan melindungiku dari sinar matahari.
Berjalan kedepan pintu lalu berbalik dan berteriak,
"Papa, Mama, Tania, Kakak berangkat dulu ya!" Teriakku dengan riang lalu memutar gagang pintu dengan senyuman.
*Krek!.. Krek!...Krek! Krek!
Pintu terkunci rapat dari luar,
Lagi-lagi mood bahagiaku terjun langsung ke minus,
"Auh ah! Sebel sama dia! Sebel! Sebel! Sebel!"
Berjalan kembali masuk sambil menghentak-hentakkan kaki disetiap langkahku, Marah, Sebel, Bingung dan Bete, bercampur aduk menjadi satu. Apa yang harus kulakukan? Semakin jauh kuberfikir semakin buntu jalan yang kutemukan. hingga pada akhirnya.....,
"MAMA!! PAPA!!!" Aku mengadu ke Mama dan Papa sambil menangis
Kututup pintu kamar mama dan papa dan langsung terjun ke pelukan mereka berdua sambil curhat tentang dia dengan menangis tersedu-sedu.
Disisi lain didepan pintu rumah bagian luar,
"Lu yakin aman?"
"Aman dh, gw udh awasi berkali-kali yang punya rumah ini selalu pergi kerja jam segini jadi sekarang rumah ini kosong."
*Crak!
"Sip terbuka!"
Setelah membuka pintu menggunakan pick lock kedua pria dengan wajah yang ditutupi topeng itu masuk dengan perlahan tanpa mengeluarkan suara. Salah satu orang menutup pintu kembali dan menyusul masuk.
Gelap,
Tak ada satupun cahaya,
Namun mereka tau,
Menyalakan lampu, ataupun membuka jendela demi mendapat cahaya adalah tindakan bodoh yang bisa membuat tetangga curiga. Dengan senter kecil di tangan mereka, mereka mengelilingi rumah sambil melihat-lihat barang yang akan mereka ambil nanti.
Sejak pertama kali masuk selain kegelapan yang tak normal mereka juga merasakan hal lain yang janggal. Semakin jauh mereka masuk semakin besar rasa kejanggalan ini terasa, berkali-kali mereka ingin menggagalkan rencana dan keluar namun semua itu hilang ketika melihat banyaknya barang mahal yang bisa mereka raih disana.
Sampai akhirnya rasa kepercayaan diri mereka hilang sepenuhnya saat membuka isi kulkas. Dengan tangan gemetaran ia menutup kulkas itu perlahan dan mencoba menstabilkan nafas mereka yang tak beraturan. Jantung berdetak sangat cepat dan wajah mereka langsung memucat.
Setelah mencoba mengabaikan rasa janggal itu akhirnya muncul lagi. Setelah cukup tenang mereka setuju untuk mengambil barang yang bisa diambil saja dalam sekali angkut dan langsung pergi. Perhiasan, Koper yang dipenuhi dengan uang dan juga emas berhasil mereka dapatkan. Walau rumahnya terlihat biasa saja dari luar siapa sangka isinya sangat bernilai seperti ini.
Semua ruangan sudah di periksa, hanya ada satu yang tersisa.
"Cepatlah buka."
"Ta-Ta-Tapi, inikan..."
Kedua orang itu ragu untuk membukanya, karena mereka menyadarinya saat lalu-lalang dari ruang ke ruang yang lain, kejanggalan selama ini yang mereka tau berasal dari balik pintu itu. Kejanggalan itu bukanlah sebuah perasaan ataupun tebakaan belaka, namun bau busuk yang sangatlah menyengat. Semua itu berada di balik pintu itu. Diantara semua pintu, Pintu kamar itulah yang paling mewah, Sudah pasti ada harta yang berharga disana namun tak ada satupun dari mereka berdua yang berani untuk membukanya.
Keringat dingin bercucuran, dengan tangan gemetaran ia meraih gagang pintu itu lalu melirik temannya yang sudah sangat pucat. Hanya dengan memegang gagang pintu itu seluruh tubuhnya menggigil ketakutan, ia merasa bahwa saat ia membuka pintu itu maka hidupnya akan berakhir. Namun dengan semua keberanian yang tersisa ia mencoba memutar gagang pintu itu,
*Sret!
Tiba-tiba ia dihentikan oleh tangan temannya yang sudah sangat dingin itu. Mereka saling menatap dan mengangguk mengerti satu sama lain untuk mengurungkan niat membuka pintu mewah tersebut. Ia melepaskan tangannya dari gagang pintu dan langsung membalikkan badan mencoba pergi dari rumah itu.
*BRAK!
Pintu dibelakang mereka langsung terbuka lebar dengan cepat, aroma busuk keluar dari balik pintu itu dan langsung menusuk ke dalam hidung. dibalik mereka berdua terdapat kegelapan sempurna dan diantaranya terlihat sepasang mata yang menatap mereka berdua dengan tajam. Sebelum mereka berbalik kedua bayangan pria itu langsung menghilang menyatu dalam kegelapan dan pintu kamar itu langsung tertutup kembali dengan rapat.
Beberapa saat kemudian pintu itu kembali terbuka dan muncul satu orang wanita memakai gaun one piece yang berubah warna menjadi merah, semerah pelembab bibir yang ia oleskan di bibirnya. Sebelum menutup kembali pintu itu sang gadis membungkukkan badannya kedalam kamar dan mengucapkan,
"Terima kasih, sudah membukakan pintu depan untukku!"
Dan menutup pintu kamar mama & papanya itu rapat-rapat. Dengan wajah riangnya sambil melompat-lompat kecil disetiap langkahnya dengan bersenandu lembut gadis itu pergi keluar rumah bersama payung hitamnya untuk membeli sebuah keju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar