[Hari keenam - Berarti]
"Sudah berakhir."
Langkah Marlin dihentikan oleh suara gadis kecil diatas pohon, namun Marlin hanya bisa menggigit bibirnya dan melanjutkan langkah kakinya, ia menolak untuk menembaknya sinyal merah. Ia sudah tau bahkan tak ada yang lebih tau darinya, waktunya telah habis, ia menolak untuk menerima bahwa dirinya sudah gagal.
Alat pendengar yang di pasang di anting Paula dari Marlin sudah tak menangkap suara apapun lagi, suara terakhir yang ia dengar hanyalah saat Anna menyambut kedatangaan suaminya Tak ada lagi petunjuk yang tersisa, seluruh kesempatan yang ia miliki telah habis, ia pernah punya pilihan namun ia salah untuk mengambilnya dan hanya menyisahkan penyesalan tanpa akhir. Semakin ia putus asa semakin kuat juga harapannya,
Langkah Marlin semakin cepat dan gadis itu terus mengikuti,
Siapa gadis itu? kenapa dia mengikutiku? kenapa dia tau apa yang sedang kulakukan? kenapa dia tau Paula? sejauh apa yang ia tau tentangku? apakah dia bisa membaca pikiranku?
Puluhan pertanyaan itu pernah muncul di benak Marlin, namun kini sudah tak lagi. Gadis misterius yang muncul dengan tiba-tiba dengan wujud tak bisa dilihat dengan sempurna itu, mungkin karena hari semakin gelap wajahnya tertutup oleh kegelapan atau memang dia tak memiliki wajah?
Dia bukan Paula, Dia bukan Tania, Dia bukan siapa-siapa, suara asing, wujud yang asing, kehadiran penuh misteri itu tak bisa dipecahkan oleh Marlin hingga ia mengabaikannya untuk fokus mencari Paula.
"Apa yang kau lakukan? semua sudah terlambat." kata gadis itu sekali lagi,
Ia mengabaikan semua ocehan gadis itu dan terus melangkah tanpa arah dan tujuan hanya berharap mendapatkan keajaiban. Rasa bersalah mulai menghantuinya dan membuatnya tenggelam dalam penyelasan tanpa batas.
Andai saja aku beritau dia lebih awal tentang Anna,
Andai saja aku datang lebih cepat,
Andai saja aku ada untuknya,
Selalu, selalu saja seperti ini,
Aku selalu terlambat,
Karena kemalasanku aku membiarkan satu-satunya adik kecilku mengalami banyak hal buruk,
Menolak mengantarnya kesekolah,
Menolak menjemputnya dari sekolah,
Menolak bermain dengannya,
Seluruh hidupku hanya berfokus mengejar satu gadis, merubah diri, belajar, mendapat pekerjaan, menjadi kaya, dan meraih segalanya, aku akhirnya berada di puncak, semua sudah kumiliki, aku juga sudah merubah diriku sesuai dengan kriteria milikmu namun saat ia menolakku kupikir ini adalah hukuman dari Tuhan karena telah mengabaikan adik kecilku selama ini. Saat aku berfikir untuk memperbaiki semuanya, aku sudah terlambat.
karena kebodohanku, aku hanya mengejar satu hal dan tak pernah menyadari hal terpenting yang ada didekatku.
Hari itu kuputuskan untuk pulang dengan tiba-tiba dan tempat pertama yang kutuju bukanlah rumah melainkan menjemput adikku dari sekolah. Satu persatu murid keluar dari gerbang melewatiku begitu saja, tak sedikit dari mereka yang menatapku heran, tak hanya murid bahkan para orang tua lainnya yang menjemput anaknya juga terheran melihatku, apa mungkin karena aku tak pernah terlihat jadi aku dikira orang asing yang mencurigakan? entahlah, semua itu tidaklah penting. waktu demi waktu berlalu hingga hari berganti menjadi sore.
Sudah berapa jam berlalu?
Sudah berapa anak yang melewatiku?
Entahlah,
Aku tidak tau,
Yang kutau hanyalah Paula masih belum terlihat sama sekali.
Hingga akhirnya,
Tak ada lagi anak yang melewati gerbang itu dan aku masih belum bertemu dengannya, sampai salah satu guru menemuiku dengan wajah curiga. Tak heran ia mencurigaiku, Seorang pria asing berdiri di depan gerbang sekolah selama 4 jam, aku sendiri menyadari betapa mencurigakannya diriku.
Dengan lembut kuperkenalkan diriku sebagai kakak kandung dari Paula, tak ada jawaban. saat kulirik guru itu tiba-tiba meneteskan air mata dan langsung menundukkan kepala.
"Saya benar-benar minta maaf karena tak bisa menjaga Paula, saya tak berharap untuk dimaafkan tapi tolong katakan apa yang bisa kulakukan untuk menebus kelalaianku!" air mata terus menetes tanpa henti membasahi tanah bagai hujan.
Dihadapannya aku terdiam dan terkejut,
"Apa maksudmu?"
Pikiranku langsung kosong tubuhku bergerak dengan sendirinya,
"APA YANG TERJADI PADA PAULA?!" kutarik rambut wanita itu dan mengangkatnya dan menatap matanya dengan tajam.
Dengan air mata berlinang dan suara yang tersedak-sedak ia menjelaskan apa yang terjadi, ia juga berkata akan menanggung seluruh biaya rumah sakit Paula dan juga biaya operasinya.
Bergegas ku kembali ke dalam mobil dan pergi ke rumah sakit dan saat sampai kutemukan adikku berbaring di ranjang melamun memandang keluar jendela dengan perban tebal di kaki kanannya.
Aku hanya melihatnya dari kaca pintu, aku tak memiliki keberanian untuk menemuinya, saat itu juga aku menyadari betapa pengecutnya diriku.
Saat kumulai memberanikan diriku untuk mengetuk pintu tanganku langsung membeku, kesunyian yang diisi angin lembut itu tiba-tiba di isi oleh suara tangisan seorang gadis kecil. Tak ada seorangpun yang berdiri disampingnya, tak ada satupun, baik itu ayah, ibu ataupun aku, tak ada yang berada disana.
Dari yang diceritakan guru itu, Paula di kucilkan dan di bully di sekolah karena kecantikannya sampai merebut pacar sahabatnya, guru-guru tak ada yang menyadari kejadian itu sampai hal ini terjadi. Semua sudah terlambat, dan yang paling menyedihkan adalah saat aku mengetahui bahwa disekolahpun ia masih sendirian.
Suara tangisan kecil itu menusuk langsung ke hatiku,
Saat aku berdiri di depan pintu itu tiba-tiba dokter menghampiriku setelah ku perkenalkan diriku ia memberitau kalau kakinya berhasil disembuhkan namun ia takkan pernah bisa berlari lagi untuk selamanya. Suara bisikan kami tak sampai masuk ke dalam kamar, namun dari yang kulihat Paula telah menyadarinya sendiri apa yang telah terjadi pada dirinya. Di lain sisi aku hanya bisa berdiam diri dan melihat dari kejauhan tanpa bisa melakukan apa-apa, semua sudah terlambat.
Apa yang selama ini kulakukan?
Tanpa sadar air mata sudah membasahi pipiku, aku hanya bisa duduk memeluk lutut bersandar di pintu sambil mendengar adikku menangis seorang diri tanpa ada satu orangpun disampingnya.
"Sia-Sia saja, semuanya sudah terlambat!" lagi-lagi gadis diatas pohon itu berbicara,
*BRAK!
Pohon itu langsung bergetar, darah mengalir dari tanganku yang memukul pohon itu sampai retak.
"AKU TAU!" Bentakku dengan emosi,
"Aku tau....aku sangat tau itu..." Perlahan menjadi lemah suara penuh penyesalan,
"TAPI!! OLEH KARENA ITULAH AKU DISINI!" Bayang-bayang gadis kecil itu akhirnya menghilang,
"Ka....K...Mar....." Tiba-tiba terdengar suara gumaman Paula yang menahan tangis dan ketakutan,
Saat kulihat ternyata itu berasal dari alat pendengar dari anting Paula,
"GRRRRR!!!!" Suara erangan yang mengerikan seperti monster juga terdengar begitu dekat dengan Paula,
*BRUAK!!!!
terdengar seperti tembok kayu yang di jebol paksa dan tiba-tiba menghancurkan anting Paula.
Disisi lain, dengan suara yang sangat keras seperti itu Marlin tak mendengar apapun dari tempatnya yang sangatlah sunyi tak ada suara apapun, pulau ini sangatlah kecil jadi jika ada suara seperti itu tak mungkin sampai tak mendengarnya, otakku pun membuat sebuah kesimpulan mutlak yang tak dapat kutolak.
Paula tak lagi berada di pulau ini.
Tapi itu hampir mustahil karena pulau ini sudah dikepung tak ada celah untuk keluar dari sini, hanya itulah jawaban yang paling masuk akal kenapa ia tak mendengar apapun, namun yang paling mengerikan adalah suara tadi. tanganku tak bisa berhenti gemetar.
Suara macam apa itu tadi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar