[Hari Keempat - Kasat Mata]
Menatap bercak merah ditangan kananku, mencoba menolak kenyataan yang baru terbuka. apa yang salah? bercak merah apa ini? terakhir yang kutau tangan kananku hanya saat menarik gaun Kak Anna untuk foto bareng, dan sebelumnya aku tidak terlalu mengingatnya.
(Kebiasaan Kak Marlin selalu bercanda, mana mungkin Kak Anna sudah mati. Kalau susah move on g perlu pakai kebohongan kayak gitu, itu sudah keterlaluan.)
Sebelum menolak mentah-mentah perkataannya ternyata sinyal sudah kembali menghilang dan memutus paksa pembicaraan kami.
(Pergantian rencana, lupakan soal tempat bermalam, aku harus segera menemui Kak Anna dan memperjelas situasi ini.)
Bertanya kepada satu persatu warga, pada awalnya mereka sangat ramah dan menjawab sapaanku dengan hangat namun wajah dan tingkahnya berubah saat aku menyebutkan nama kak Anna. Semuanya seakan menghindari topik tentang Kak Anna. semakin lama aku mencari tau semakin banyak misteri yang kutau.
Salah seorang bahkan memberitauku untuk tidak berurusan dengan Kak Anna, Saat aku bertanya 'Kenapa?' hanya jawaban bisu yang bisa kudapat, semakin jauh aku menggali semakin jauh juga aku dari jawaban yang kucari.
Pagi telah berganti ke sore hari namun tak dapat ku temukan apapun tentangnya,
Menatap mentari yang perlahan pergi, bergumam pada diri sendiri,
(Mungkin cukup untuk hari ini, sekarang aku harus mencari tempat untuk bermalam.)
*Krunyukkk
Perut sudah mulai memberontak, disaat yang sama terlihat toko keju di sampingku.
(Ini kan toko yang ku tunjukkan kepada Kak Anna.)
*Klinting
"Selamat datang." Sambut penjaga toko
Saat masuk mataku dimanjalan oleh puluhan macam kue dari keju sepanjang etalase. Disaat perut mulai berdemo, semua hal yang terlihat mendadak seakan menjadi lezat. tanpa pikir panjang ku tunjuk 10 macam kue yang berbeda untuk di bungkus. Saat air liur tak bisa dibendung ku tarik sebuah kursi dan memakan salah satu kue di toko itu dengan lahap sambil menatap keluar jendela.
Deja Vu,
Mataku tiba-tiba dikejutkan oleh kehadirannya,
*Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Ku tepuk-tepuk meja dan melambaikan tangan ke penjaga toko dan dengan sigap ia membawakan air minum untukku. Setelah meneguk satu gelas penuh dalam satu nafas, ku ucapkan terima kasih kepada sang penjaga toko dan memasukkan semua sisa kue ke mulutku dan berlari ke luar tanpa melupakan satupun kotak kue yang belum ku buka.
Tak boleh membuang waktu,
Jika aku melewatkan kesempatan ini aku berpikir takkan ada kesempatan berikutnya, berlari dengan mulut seperti tupai menelan kacang ku gapai tangannya sekali lagi.
Hari mulai gelap, aku tak bisa melihat wajahnya tapi instingku tak pernah salah. satu persatu lampu menyala mendekati kami sampai saat itu hanya keheningan canggung yang ada.
"Ada apa ya?" Tanyanya dengan heran
*Haahhhhh
Kutarik nafas lega karena aku benar-benar bisa memegangnya dan bukan dari imajinasiku,
dan saat kujawab pertanyaannya sebuah lampu menyinari kami berdua yang berada di tepat atas kami,
"Bwukan apwa-awpa kwok, Kwak Wanna." jawabku dengan mulut yang dipenuhi kue,
Yap, itu adalah Kak Anna. Dalam hati aku bersyukur karena nasib baik masih bersamaku.
(Hantu? mana ada hantu punya kulit semulus ini dan kaki ramping menyentuh tanah seperti itu.)
"Oalah, Paula toh, kirain siapa. ada apa lagi?"
Kuletan semua kue dimulutku setelah mengunyahnya,
"Ini beneran Kak Anna kan?" Tanyaku sambil menatapnya dari bawah ke atas,
"Kenapa? jangan bilang kamu sudah lupa sama aku? kalau iya beneran nyebelin sih kamu." jawabnya bercanda
"Justru aku g lupa makanya aku mau mastiin lagi."
(Padahal emang beneran lupa sih.)
"Iya ini aku Anna, truss?" jawabnya dengan bete
"Kok kakak jadi bad mood gt? *Ku lirik kedua tangan kosongnya* jangan-jangan kakak masih mencari keju ya?"
ia mengangguk pelan, tanpa berpikir 2 kali ku berikan semua kue keju yang masih kubawa itu. seketika wajahnya langsung bersinar-sinar.
"Beneran boleh?!" tanyanya dengan gembira
"Iya, lagi pula aku sudah kenyak kok"
*Krunyuk!
*Buk!
Kupukul keras perutku setelah berbunyi sambil mengeluarkan senyum kecut,
"Hmm...... gini aja, kamu ikut makan malam dirumahku saja, kebetulan aku mau masak banyak hari ini."
"Enggk deh makasih."
*Krunyuk~
*Buk! Buk! Buk!
"Gpp, ayo!" Paksa Kak Anna sambil menarikku, sementara aku hanya bisa pasrah menunduk menahan malu.
Selama perjalanan situasi sangat canggung, dengan seluruh keberanian yang kupunya kucoba untuk menghancurkan tembok canggung ini.
"Adik kak Anna gimana kabarnya?"
"Baik kok, akhir-akhir ini dia suka banget gambar mungkin dia ingin jadi seniman kelak." ia menjawab sambil menatap langit lalu tersenyum ke arahku,
"Jadi g sabar ketemu sama dia lagi."
"Hahaha, tapi ya gitu g berubah dia, ttp se enaknya aja dan pemalu."
Ku lanjutkan obrolan seperti arus yang ada sampai tak kusadari kita sudah sampai di tempat tujuan. Sepanjang perjalanan hanya di isi tentang Tania walaupun sejujurnya aku sudah lupa seperti apa dia, tapi biarlah nanti juga akan ingat kalau sudah ketemu.
Setelah masuk aku dipersilahkan menunggu di ruang tamu selagi Kak Anna membereskan dapur yang berantakan, aku pun duduk di sebuah sofa dan memandang sekitar, rumah yang begitu luas, bersih namun anehnya ada bau kurang sedap sejak aku masuk tadi, yah walaupun cuma sedikit sih, mungkin itu dari dapur atau bau sampah aja.
di meja terlihat sebuah kertas kosong dan beberapa perlengkapan untuk menggambar.
(Mungkin ini yang dimaksud kak Anna tentang Tania.)
Sambil menunggu Kak Anna membereskan dapur aku bermain dengan Hpku melihat-lihat hasil foto yang kudapatkan disini. Selagi asik menggeser layar Hp tiba-tiba terdengar suara Kak Anna menuju kesini dan reflek ku masukkan hp ke dalam saku dan melihatnya muncul dari dapur sambil membawa teh hangat.
"Oalah baru ditinggal sebentar udah akrab aja kalian." kata Kak Anna sambil menaruh 2 gelas teh di meja,
Aku hanya terheran dan bingung dengan perkataan Kak Anna, kulihat Kak Anna menaruh tehnya. Satu untukku dan satu lagi ia taruh di sampingku.
"Lagi gambar apa tuh?" tanya Kak Anna sambil tersenyum kesampingku,
Saat kulihat tiba-tiba saja kertas kosong didepanku tadi terisi oleh sebuah gambar 2 orang pria yang kurang jelas karena hanya memakai 2 warna yaitu hitam dan merah.
Jantungku berdetak sangat kencang, nafasku tak lagi bisa kukendalikan, keringat bercucuran dari dahi, dengan tangan gemetaran ku coba untuk menghibur diri melihat hp sampai saat kusadari di layar hpku ada sebuah pesan yang ditulis dari krayon merah.
[Tolong mereka berdua!]
"Wah gambarnya bagus.... Ini gambar kakak sama Paula ya?"
Di waktu yang sama, Sebuah helikopter menurunkan seseorang. di tengah gelapnya pantai terlihat pria tinggi dengan rambut acak-acakan, saat ia mengangkat tangannya sebuah koper jatuh langsung ke genggamannya.
Setelah kepergian helikopter pria itu langsung melewati gerombolan warga yang berkumpul melihatnya dengan tergesa-gesa. Pria itu menekan tombol pada headphone di telinganya dan berbicara.
"30 menit! jika tak ada sinyal dariku segera minta bala bantuan dari markas."
"Tapi, Pak-"
Pria itu langsung membuang headphone dan menginjaknya sampai hancur. tanpa membuang waktu pria itu langsung mengeluarkan flare gun dan menembakkannya ke atas dan menerangi langit dengan cahaya berwarna hijau.
(Semoga kau baik-baik saja, Paula. Kakak akan segera menyelamatkanmu.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar