Selasa, 08 Februari 2022

Masih bermimpi - Hari keenam

[Hari keenam - Berarti]

"Sudah berakhir." 

Langkah Marlin dihentikan oleh suara gadis kecil diatas pohon, namun Marlin hanya bisa menggigit bibirnya dan melanjutkan langkah kakinya, ia menolak untuk menembaknya sinyal merah. Ia sudah tau bahkan tak ada yang lebih tau darinya, waktunya telah habis, ia menolak untuk menerima bahwa dirinya sudah gagal.

Alat pendengar yang di pasang di anting Paula dari Marlin sudah tak menangkap suara apapun lagi, suara terakhir yang ia dengar hanyalah saat Anna menyambut kedatangaan suaminya Tak ada lagi petunjuk yang tersisa, seluruh kesempatan yang ia miliki telah habis, ia pernah punya pilihan namun ia salah untuk mengambilnya dan hanya menyisahkan penyesalan tanpa akhir. Semakin ia putus asa semakin kuat juga harapannya,

Langkah Marlin semakin cepat dan gadis itu terus mengikuti,

Siapa gadis itu? kenapa dia mengikutiku? kenapa dia tau apa yang sedang kulakukan? kenapa dia tau Paula? sejauh apa yang ia tau tentangku? apakah dia bisa membaca pikiranku? 

Puluhan pertanyaan itu pernah muncul di benak Marlin, namun kini sudah tak lagi. Gadis misterius yang muncul dengan tiba-tiba dengan wujud tak bisa dilihat dengan sempurna itu, mungkin karena hari semakin gelap wajahnya tertutup oleh kegelapan atau memang dia tak memiliki wajah?

Dia bukan Paula, Dia bukan Tania, Dia bukan siapa-siapa, suara asing, wujud yang asing, kehadiran penuh misteri itu tak bisa dipecahkan oleh Marlin hingga ia mengabaikannya untuk fokus mencari Paula.

"Apa yang kau lakukan? semua sudah terlambat." kata gadis itu sekali lagi,

Ia mengabaikan semua ocehan gadis itu dan terus melangkah tanpa arah dan tujuan hanya berharap mendapatkan keajaiban. Rasa bersalah mulai menghantuinya dan membuatnya tenggelam dalam penyelasan tanpa batas.

Andai saja aku beritau dia lebih awal tentang Anna,

Andai saja aku datang lebih cepat,

Andai saja aku ada untuknya,

Selalu, selalu saja seperti ini, 

Aku selalu terlambat,

Karena kemalasanku aku membiarkan satu-satunya adik kecilku mengalami banyak hal buruk,

Menolak mengantarnya kesekolah,

Menolak menjemputnya dari sekolah,

Menolak bermain dengannya,

Seluruh hidupku hanya berfokus mengejar satu gadis, merubah diri, belajar, mendapat pekerjaan, menjadi kaya, dan meraih segalanya, aku akhirnya berada di puncak, semua sudah kumiliki, aku juga sudah merubah diriku sesuai dengan kriteria milikmu namun saat ia menolakku kupikir ini adalah hukuman dari Tuhan karena telah mengabaikan adik kecilku selama ini. Saat aku berfikir untuk memperbaiki semuanya, aku sudah terlambat.

karena kebodohanku, aku hanya mengejar satu hal dan tak pernah menyadari hal terpenting yang ada didekatku.

Hari itu kuputuskan untuk pulang dengan tiba-tiba dan tempat pertama yang kutuju bukanlah rumah melainkan menjemput adikku dari sekolah. Satu persatu murid keluar dari gerbang melewatiku begitu saja, tak sedikit dari mereka yang menatapku heran, tak hanya murid bahkan para orang tua lainnya yang menjemput anaknya juga terheran melihatku, apa mungkin karena aku tak pernah terlihat jadi aku dikira orang asing yang mencurigakan? entahlah, semua itu tidaklah penting. waktu demi waktu berlalu hingga hari berganti menjadi sore. 

Sudah berapa jam berlalu?

Sudah berapa anak yang melewatiku?

Entahlah, 

Aku tidak tau,

Yang kutau hanyalah Paula masih belum terlihat sama sekali. 

Hingga akhirnya,

Tak ada lagi anak yang melewati gerbang itu dan aku masih belum bertemu dengannya, sampai salah satu guru menemuiku dengan wajah curiga. Tak heran ia mencurigaiku, Seorang pria asing berdiri di depan gerbang sekolah selama 4 jam, aku sendiri menyadari betapa mencurigakannya diriku.

Dengan lembut kuperkenalkan diriku sebagai kakak kandung dari Paula, tak ada jawaban. saat kulirik guru itu tiba-tiba meneteskan air mata dan langsung menundukkan kepala.

"Saya benar-benar minta maaf karena tak bisa menjaga Paula, saya tak berharap untuk dimaafkan tapi tolong katakan apa yang bisa kulakukan untuk menebus kelalaianku!" air mata terus menetes tanpa henti membasahi tanah bagai hujan.

Dihadapannya aku terdiam dan terkejut,

"Apa maksudmu?" 

Pikiranku langsung kosong tubuhku bergerak dengan sendirinya, 

"APA YANG TERJADI PADA PAULA?!" kutarik rambut wanita itu dan mengangkatnya dan menatap matanya dengan tajam.

 Dengan air mata berlinang dan suara yang tersedak-sedak ia menjelaskan apa yang terjadi, ia juga berkata akan menanggung seluruh biaya rumah sakit Paula dan juga biaya operasinya.

Bergegas ku kembali ke dalam mobil dan pergi ke rumah sakit dan saat sampai kutemukan adikku berbaring di ranjang melamun memandang keluar jendela dengan perban tebal di kaki kanannya.

Aku hanya melihatnya dari kaca pintu, aku tak memiliki keberanian untuk menemuinya, saat itu juga aku menyadari betapa pengecutnya diriku.

Saat kumulai memberanikan diriku untuk mengetuk pintu tanganku langsung membeku, kesunyian yang diisi angin lembut itu tiba-tiba di isi oleh suara tangisan seorang gadis kecil. Tak ada seorangpun yang berdiri disampingnya, tak ada satupun, baik itu ayah, ibu ataupun aku, tak ada yang berada disana. 

Dari yang diceritakan guru itu, Paula di kucilkan dan di bully di sekolah karena kecantikannya sampai merebut pacar sahabatnya, guru-guru tak ada yang menyadari kejadian itu sampai hal ini terjadi. Semua sudah terlambat, dan yang paling menyedihkan adalah saat aku mengetahui bahwa disekolahpun ia masih sendirian.

Suara tangisan kecil itu menusuk langsung ke hatiku,

Saat aku berdiri di depan pintu itu tiba-tiba dokter menghampiriku setelah ku perkenalkan diriku ia memberitau kalau kakinya berhasil disembuhkan namun ia takkan pernah bisa berlari lagi untuk selamanya. Suara bisikan kami tak sampai masuk ke dalam kamar, namun dari yang kulihat Paula telah menyadarinya sendiri apa yang telah terjadi pada dirinya. Di lain sisi aku hanya bisa berdiam diri dan melihat dari kejauhan tanpa bisa melakukan apa-apa, semua sudah terlambat.

Apa yang selama ini kulakukan?

Tanpa sadar air mata sudah membasahi pipiku, aku hanya bisa duduk memeluk lutut bersandar di pintu sambil mendengar adikku menangis seorang diri tanpa ada satu orangpun disampingnya. 

"Sia-Sia saja, semuanya sudah terlambat!" lagi-lagi gadis diatas pohon itu berbicara,

*BRAK!

Pohon itu langsung bergetar, darah mengalir dari tanganku yang memukul pohon itu sampai retak.

"AKU TAU!" Bentakku dengan emosi,

"Aku tau....aku sangat tau itu..." Perlahan menjadi lemah suara penuh penyesalan,

"TAPI!! OLEH KARENA ITULAH AKU DISINI!" Bayang-bayang gadis kecil itu akhirnya menghilang,

"Ka....K...Mar....." Tiba-tiba terdengar suara gumaman Paula yang menahan tangis dan ketakutan,

Saat kulihat ternyata itu berasal dari alat pendengar dari anting Paula, 

"GRRRRR!!!!" Suara erangan yang mengerikan seperti monster juga terdengar begitu dekat dengan Paula,

*BRUAK!!!!

terdengar seperti tembok kayu yang di jebol paksa dan tiba-tiba menghancurkan anting Paula.

Disisi lain, dengan suara yang sangat keras seperti itu Marlin tak mendengar apapun dari tempatnya yang sangatlah sunyi tak ada suara apapun, pulau ini sangatlah kecil jadi jika ada suara seperti itu tak mungkin sampai tak mendengarnya, otakku pun membuat sebuah kesimpulan mutlak yang tak dapat kutolak.

Paula tak lagi berada di pulau ini.

Tapi itu hampir mustahil karena pulau ini sudah dikepung tak ada celah untuk keluar dari sini, hanya itulah jawaban yang paling masuk akal kenapa ia tak mendengar apapun, namun yang paling mengerikan adalah suara tadi. tanganku tak bisa berhenti gemetar.

Suara macam apa itu tadi?


Senin, 07 Februari 2022

Masih Bermimpi - Hari kelima

 [Hari kelima - Perjamuan]

Di lampu yang redup dan berkedip-kedip jari jemariku bergerak diatas keyboard hp sementara kubiarkan Kak Anna pergi untuk berganti baju. 

*Tak! Tak! Tak!

jari jemariku menari-nari membentukkan arti dari dalam hati dan mengukirnya di dalam catatan kecil dalam Hp.

"Siapa kau?"

*Tak!Tak!Tak!

Keyboard itu bergerak dengan sendirinya, 

"Entahlah, aku juga tidak tau."

*Tak! Tak! Tak!

"Siapa 2 orang yang kamu maksud barusan?"

*Tak! *Tak! *Tak!

"Entahlah, aku juga tidak tau."

 "Apa yang terjadi pada mereka?"

"Entahlah, aku juga tidak tau."

"Lalu kenapa aku harus menyelamatkan mereka?"

"Agar kau selamat."

 "Apa maksudnya? apa aku akan mati begitu?"

"Saat dia kembali, kau takkan pernah bisa kembali."

"Apa maksudnya aku tidak bisa kembali? Siapa yang akan kembali?"

"Hey?!"

"Hallo?"

"Jawaban aku?!"

"Siapa kau sebenarnya?"

Tak ada jawaban, apakah ini hanya candaan atau sebuah mimpi? aku juga tidak tau. Mataku kembali melirik kertas yang bergambar 2 orang itu, walaupun cukup samar namun hanya itu petunjuk yang kupunya, tapi seketika aku terkejut.

ku pikir aku salah lihat,

Dalam sekejap ku ambil kertas itu dan melihatnya dari dekat, ternyata aku tidak salah lihat. salah satu orang dari gambar itu di coret-coret seakan dihapus dengan krayon berwarna merah dan hanya menyisahkan satu orang. 

(Apa ini?!)

(Apa ini?!)

(Apa-apaan semua ini?!)

Lampu mulai berkedip-kedip, dengan pencahayaan yang redup, dan udara yang sangat dingin yang baru saja kusadari membuat seluruh otakku tak bisa bekerja dengan baik. Jantungku tiada henti berdetak begitu kencang ketika layar hpku mati tercerminkan wajahku yang begitu pucat. 

(Cukup! ini sama sekali tidak lucu!)

Ku masukkan Hp ke dalam tas kecil selempangku dengan tangan yang tak bisa berhenti gemetaran, ketika meninggalkan ruang tamu aku melihat seluruh ruangan di dalam rumah itu sangat gelap tak ada satupun lampu yang menyala kecuali di ruang tamu, seluruh jendela dan gorden juga tertutup membuat tempat ini menjadi gelap sempurna seakan memandang kehampaan.

*Glek

Menelan ludahku sendiri dan berteriak pamit ke kak Anna yang entah sedang ada dimana.

"Kak Anna aku pulang dulu ya! maaf aku ada urusan tiba-tiba!"

Tak ada jawaban...

(Pokoknya aku sudah pamitan...sekarang..)

Ku raba dan ku ambil sepatuku di dalam rak dan memutar gagang pintu,

*Krak!

(Huh?!)

*Krak! Krak! Krak!

(Terkunci?!)

Anna :"Percuma."

"Hah?!" Dengan kaget kujatuhkan sepatu di tanganku.

Tiba-tiba muncul suara dingin Kak Anna dibelakangku saat aku berbalik ternyata memang dirinya sambil membawa pisau dengan tatapannya yang kosong dan tak berkedip sama sekali, seluruh pandangannya tertuju padaku, tatapan yang seakan langsung mengarah ke jiwaku.

Tanpa sadar kakiku sudah melangkah mundur menjauh darinya hingga menyentuh pintu. 

"Tapi tenang aja, bentar lagi suamiku pulang dan bisa bukain pintunya, oleh karena itu Paula ikut makan disini aja makin rame makin bagus kan? tapi sebelum itu bantu Kakak masak ya.... udah lama kakak enggk masak banyak jadi butuh bantuan."

Tiba -tiba Kak Anna kembali ceria lagi, pergantian sifatnya sangatlah bertolak belakang, seakan 2 orang yang berbeda membuatku semakin takut. Dengan kembalinya Kak Anna seperti biasanya membuatku bisa sedikit lebih rileks, setidaknya ada yang bisa di ajak bicara. namun tetap bukan berarti semua kekhawatiran serta rasa ketakutan yang kupunya semuanya menghilang. 

Sebelum kita menuju dapur ku taruh kembali tasku diruang tamu dan Kak Anna mematikan lampunya saat aku sudah keluar.

*Tap!

*Tap!

*Tap!

Kami berdua berjalan menuju dapur sambil mendengarkannya berbicara tanpa henti sedangkan aku hanya bisa menunduk dan mendengarkan saja. Keringatku terus mengalir dari dahi, ku pegang ujung kaos Kak Anna sambil menutup mata dengan sangat rapat. Seluruh indra dalam tubuhku menyadarinya, aku tak tau apa yang sedang Kak Anna bicarakan karena aku sedang fokus mendengar hal lain.

Bukan suara kak Anna tapi suara langkah kaki, dan itu bukan suara langkah kaki milik kami berdua melainkan sesuatu yang mengikuti di belakangku sejak keluar dari ruang tamu tadi.

"Kak Paula!" terdengar bisikan kecil dari belakang,

(Aku tidak dengar apa-apa!)

 "Kak Paula!

(Aku tidak dengar apa-apa! Aku tidak dengar apa-apa!)

"Kak Paula!"  

( Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak dengar apa-apa!Aku tidak-)

"Paula?!"

"Hah?!" saat ku buka kedua mataku ternyata Kak Anna,

"Kamu kenapa? kamu keliatan pucat gitu? apa kamu sakit? Kalau gitu mending istirahat aja biar kakak aj yang urus disini." 

"Enggk! gpp kok Kak Anna, sebenarnya aku takut dengan tempat-tempat gelap, jadi..."

"Oh!" Kak Anna langsung menyalakan lampu,

"Maaf ya, kebiasaan. aku kurang peka." Katanya sambil tersenyum lepas,

"Gpp kok, kak Anna. Maaf merepotkan. Ngomong-ngomong kapan suami kakak pulang?"

(Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!Jangan lihat kebelakang!)

"Segitunya ya pengen cepat-cepat makan? dasar, luarnya cantik tapi tetap aja rakus seperti biasa." 

"Jangan bercanda dong, kak."

"Hahahaha, iya, iya maap, dia selalu pulang jam 5 kok dan sekarang masiiiihhhhh *Kak Anna melihat jam* Jam 4, masih ada waktu 1 jam. cukup banget sih waktunya." Semangat Kak Anna tiba-tiba melonjak membara sambil menggulung lengan kaosnya bersiap berperang.

Ku ikuti setiap arahan dari Kak Anna sambil terus berusaha sekuat mungkin menghiraukan bisikan-bisikan yang terdengar di kedua telingaku. Pekerjaan ternyata lebih mudah dari yang kukira, semua bahan sudah siap dan hanya tinggal memasaknya saja. Menunggu sampai matang kami pun duduk di meja makan menghela nafas istirahat bersama. 

Pekerjaan selesai sekitar 30 menitan, mungkin karena aku terlalu fokus aku sampai tak menyadari suara bisikan itu tak lagi terdengar. 

Jika semua yang makhluk itu katakan benar, mungkin yang ia maksud dari 'dia' adalah suami Kak Anna, aku tidak tau seperti apa dia dan tak pernah mendengar apapun dari kak Marlin namun dari apa yang dikatakan makhluk itu dia bukanlah orang yang baik sepertinya.

Kulihat jam dinding untuk memeriksa perhitunganku untuk membuat rencana mencari celah pergi menyelamatkan pria yang dimaksud makhluk itu. 

(Hah?!)

Seketika harapan dan rencana yang baru saja aku buat langsung hilang tanpa sisa dan melemparku ke jurang keputusasaan.

(Jamnya tidak bergerak?) 

Jam masih tetap menunjukkan pukul 4, dengan kata lain jamnya sudah tidak berfungsi sejak jam 4. 

Berapa waktu yang tersisa? Apa yang akan terjadi? Alasan apa yang harus kubuat untuk keluar dari pengawasan Kak Anna? 

Dengan perut kosong, dan kepanikan tanpa henti kupaksa otakku berpikir sekuat mungkin sampai akhirnya muncul satu ide yang bisa membuatku keluar dari pengawasan Kak Anna walaupun hanya sebentar.

Ku beranjak dari kursi sambil berkata,

"Kalau gitu aku panggil Tania dulu ya kak."

(Benar, dengan memanggil Tania untuk memanggil bantuan, mendapat kawan, dan memberiku waktu untuk menjelajah rumah ini mencari pria itu jika aku menghabiskan waktu yang lebih lama dari seharusnya aku bisa beralasan tak bisa menemukan kamar Tania. Sip ini adalah rencana sempurna.)

Saat aku hampir berdiri sepenuhnya Kak Anna mengatakan sesuatu yang membuat seluruh badanku membeku tak bisa kugerakkan.

"Apa maksudmu? bukannya Tania dari tadi dibelakangmu?" 

Lagi - lagi suara bisikin itu terdengar kembali,

"Kak Paula."

(Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan-) 

*Cekrak!

Suara kunci pintu terbuka,

Disaat yang sama Kak Anna berdiri dengan wajah gembira,

"Akhirnya yang ditunggu tiba juga, selamat datang, sayang," Ucap Kak Anna ke belakangku.

(Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!Jangan melihat kebelakang!)

Paula menoleh kebelakang.

Marlin tak datang tepat waktu,

Pintu rumah itu kembali tertutup, tak terdengar suara apapun di dalam sana, hanya keheningan dan seluruh lampu di rumah itu semuanya kembali padam termasuk lampu dapur.

30 menit telah terlewat sejak kedatangan Marlin, mereka menganggap rencana penyelamatan Paula telah gagal dan mengirimkan tim lain untuk melanjutkan misi ke tahap selanjutnya.