Sabtu, 05 Februari 2022

Masih Bermimpi - Hari ketiga

[Hari ketiga - Model]

Cantik itu relatif, 

Cantik itu Baik,

Cantik itu Menawan,

Cantik itu Jahat,

Cantik itu Tidak menarik,

Cantik itu pribadi,

Tapi di lain sisi cantik itu mutlak. 

Tak peduli seberapa baik aku kepada semua orang, 

Tak peduli seberapa peduli aku kepada semua orang,

Sebanyak apapun orang yang bisa aku panggil teman,

Sebanyak apapun senyum yang aku tebar,

Jika kecantikan yang membuatku memiliki segalanya, maka kecantikanlah juga yang akan menghancurkan semua itu.

Namaku Paula, 15 tahun, gadis yang di berkati kecantikan sempurna sejak lahir, tubuh yang tak akan gemuk tak peduli seberapa banyak aku makan, kulit lembut, putih dan mulus, mata berwarna biru laut, rambut panjang selembut kain sutra dan berhasil menjadi seorang model cilik sukses di umurku saat ini.

Mentari pagi bersinar cerah, seharusnya saat ini ada jadwal pemotretan namun malah dibatalkan oleh ibunda, tak hanya jadwal hari ini namun ia mengosongkan jadwal seminggu penuh dengan tanpa alasan, ia hanya menyuruhku untuk bersantai dan bermain bersama teman-temanku. 

Ku tatap kontak Hp ku, puluhan bahkan sampai ratusan nomor yang tersimpan mulai dari A sampai Z mulai dari orang tua sampai sebaya, dulu mereka semua adalah teman-teman dekatku, namun sekarang satu-satu orang yang bisa kuhubungi hanyalah.......

(Kakak)

*Haahhhhh

Menghela nafas panjang lalu memasukkan kembali Hp kedalam tas,

(Minta ditemani kakak bukan pilihan bagus, bukannya senyuman malah menjadi bahan guyonan, bukannya main malah di tinggal berbaring.)

Angin laut berhembus kuat mengurai rambutku di udara, membentang melewati puluhan ombak diatas perahu yang melaju kencang sambil menghirup udara segar nan alami. Begitu luas, indah, nyaman, menenangkan hati dan jiwa, bertolak belakang dari lingkungan kerjaku selama ini. 

(Inilah yang terbaik.)

10 menit berlalu, tempat yang ku tuju sudah terlihat. Sebuah pulau kecil yang jauh dari perkotaan. 

"Nona, kalau boleh tau ada perlu apa di pulau itu? disana tidak ada apa-apa loh." Tanya paman pengemudi kapal,

"Gpp, aku kemari cuma mau ganti suasana aja, cape di kota, berisik banget." 

Paman itu tiba-tiba tertawa lepas saat mendengar jawabanku,

*Hahahahahaha

"Paman ngetawain saya?"

"Maaf-maaf, Paman bukannya ngetawain kamu tapi paman cuma kaget aja, alasanmu persis banget sama 2 pria langganan paman, kalau nona bertemu dengan mereka mungkin aja bisa klop topiknya."

Ku keluarkan senyuman kecil dan mengakhiri percakapan karena sudah hampir sampai. Tak ada gedung-gedung tinggi, terlihat banyak sekali tumbuhan hijau di sekelilingnya, begitu juga orang-orang yang berlalu lalang di tepi pantai mulai dari nelayan sampai anak-anak. ku arahkan kamera Hp untuk mengabadikan pemandangan pulau indah itu.

*Cekrek!

Ku tatap dengan puas keindahan yang berhasil kutangkap, tanpa pikir panjang langsung kujadikan wallpaper. 

"Nona." Panggil si Paman,

"Iya?"

"Cuma mengingatkan, disana sinyal susah, kadang ada kadang jg tidak"

"Iya, paman. lagi pula tidak ada juga orang yang ingin kuhubungi, malahan aku berharap semoga g ada seorangpun yang bakal menghubungiku."

Tak lama kemudian setelah berlabuh kami pun berpisah. Tanpa membuang waktu dan kesempatan kubalikkan badan dan memulai melihat serta menikmati pemandangan pedesaan disana. Udara segar yang bukan dari AC, angin sepoi- sepoi yang bukan dari kupas angin, Kerindangan yang bukan dari bayangan gedung bertingkat, keramaian yang tidak berasal dari kendaraan bermotor, keluasan yang tak dibatasi oleh dinding, dan jalanan yang tak ada mobil atau motor sejauh mata memandang. 

Semua mata tertuju padaku, namun itu bukanlah hal yang aneh, menjadi pusat perhatian sudah ku rasakan sejak aku lahir, ku tebar senyuman dan lambaian tangan kepada setiap mata yang bertemu, mereka pun juga membalas hal yang serupa. Tempat ini memang terpencil dan jauh dari perkotaan tak kusangka orang-orang ditempat ini sangat ramah dan hangat. Ku biarkan diriku mengalir sesuai arus sampai entah bagaimana aku berakhir bermain bersama anak-anak dipantai, Ibu mereka tersenyum memandangi kami dari kejauhan sedangkan ayah mereka memberi semangat sambil bersiap berangkat kerja.

Waktu terus berputar dipenuhi tawa dan juga keringat, tak terasa sudah kuhabiskan waktu 1 jam bermain bersama mereka, kuputuskan untuk berpamitan dan melanjutkan perjalananku. tapi sebelum itu, langkahku terhenti disebuah toko minuman. 

Setelah membeli minuman dingin akupun duduk bersantai dan beristirahat di dalam toko sambil melihat pemandangan dari balik jendela.

Begitu damai dan tenang, pemandangan yang takkan pernah kudapatkan di kota.

(Sepulangnya nanti aku harus berterima kasih pada ibunda karena udah ngasih kesempatan bersantai seperti ini.)

*Slurpp

*Klinting!

Suara bel pintu toko mencuri perhatianku dan menghentikan mulutku menikmati jus jeruk dingin.

Seorang gadis tinggi, berambut hitam panjang, berkulit putih, dengan kaki dan juga tubuh langsingnya ia berjalan ke meja sang penjaga toko. Bibir merah yang sewarna dengan gaun one piece membuatnya terlihat sangat elegan, walaupun terlihat mencolok.

Hanya dalam pandangan pertama akupun menyadari, sosok kecantikan yang sebenarnya. Baik luar, dalam dan suara. namun walau begitu anehnya semua orang seakan menghindari kontak mata dengan wanita itu, bahkan sang penjaga tokopun melempar pandangannya kesana kemari menghindari kontak mata dengannya.

Saat aku terpaku pada kecantikannya tak kusadari percakapannya dengan sang penjaga toko telah usai dengan dia yang terlihat kecewa. Setiap langkah yang ia ambil sebelum meninggalkan toko membuat diguncangkan dengan keraguan. Saat membayangkan penyesalan yang akan datang ketika aku melewatkan kesempatan ini, membuat tubuhku bergerak tanpa persiapan.

Saat kusadari tanganku sudah menggenggam pergelangan tangan lembutnya.

Ia menatapku dengan heran, 

"Permisi? bisa lepaskan tanganku?" tanyanya dengan lembut,

"AH?! MAAF!!" reflek karna panik kulepaskan tanganku dan aku tak dapat mengangkat kepalaku menahan malu,

Wanita itu melanjutkan langkah kakinya sedangkan aku sedang bergelud dengan pikiranku sendiri.

(Katakan! Katakan! Katakan! Beranilah wahai diriku!) 

"Anu! aku ingin berkenalan denganmu!" Teriakku sambil menutup mata dan terus menundukkan kepala,

"G tertarik." jawabnya dengan datar tanpa menghentikan langkahnya,

Tubuhku langsung berhenti bergerak karena syok, rasanya seperti menembak seseorang dan ditolak mentah-mentah. 

(Berpikir! Berpikirlah Paula! Berpikir!) 

*Tap....Tap....Tap.... 

Suara langkahnya yang semakin menjauh,

 "Aku tau dimana tempat mendapatkan keju!" Ku buka salah satu mataku mengintipnya,

*Tap!Tap!Tap!Tap!Tap!

Dengan langkah kaki cepat ia langsung berdiri didepanku dengan mata bersinar-sinar penuh harapan.

(Syukurlah ternyata pendengaranku masih bagus jadi bisa mendengar pembicaraannya dengan penjaga toko, lagian wanita ini aneh juga cari keju di toko minuman.)

"Aku juga bisa mengantarmu kesana sekarang juga." 

(Untung saja sebelum datang kemari aku sudah hafalin peta disini dari google.)

Akupun berjalan langsung menuju tempat yang ia cari-cari, sejak aku berjalan bersamanya semua orang seakan menghindari kami, entah ada apa tapi semua itu tidak penting. jika ia punya kecantikan yang melebihiku mungkin saja dia akan mengeri penderitaanku selama ini.

langkah demi langkah ku isi dengan obrolan kecil, ia menjawab dan memperluas obrolan menjadi lebih nyaman, ia bahkan juga ramah akan senyumannya. Dia cantik dan juga baik namun jika dilihat dari reaksi orang-orang sekitar nampaknya wanita ini memiliki takdir yang lebih kejam daripada diriku.

Tapi jauh di dalam diriku seakan merasakan Deja Vu, Suara ini, tawa kecil ini, seperti pernah kudengar. 

"Ngomong-ngomong, Paula enggk sekolah? kan hari ini hari senin."

"Aku sudah berhenti."

"Kenapa?" 

"Banyak yang terjadi, aku akhirnya memutuskan untuk fokus menjadi model aja." 

Tiba-tiba suasana menjadi berat karena topiknya yang menjadi suram, dengan cepat ku alihkan pembicaraan dengan mengeluarkan Hpku.

"Foto bareng yuk! nanti aku kirimin ke kamu juga, nomormu berapa?"

"Aku enggk punya Hp, udah di buang sama suamiku." 

"Oh..." jawabku kecewa.

(Eh udah punya suami, kirain belum.... keliatan muda banget sih kukira umurnya masih 18 an tau gitu aku manggil dia kakak.)

 "Yaudah nanti kalau aku udah pulang nanti ku kirim hasil cetaknya saja, Sini! Cheese!" Kutarik dan ku arahkan kamera ke wajah kami berdua. 

*Cekrek!

Lagi-lagi kutatap hasil jepretan fotoku yang membanggakan itu, foto 2 bidadari  surga yang cantik dan menawan.

(Kuharap saat aku besar aku bisa seperti dia.)

Tanpa pikir panjang ku upload foto itu ke medsos, namun seperti kata paman itu tadi, sinyalnya tidak ada yang ada hanya loading saja.

(Biarin ah, bentar lagi kalo pas ada sinyal biar langsung ke upload sendiri.)

"Eh iya, toko yang kamu cari di depan sana." Tunjuk ku kedapan,

"Yaudah makasih ya, bye Paula!" wanita itu pergi melambaikan tangan dibawah payung hitamnya.

"Iya, Sama-sama-" Kalimatku terhenti saat baru menyadari aku belum tau siapa namanya,

(Lupa perkenalan karena keasikan ngobrol....) 

Ku berbalik untuk mencari tempat menginap dan ditengah-tengah langkah aku menyadari hal janggal.

(Eh bentar, dari mana dia tau namaku?)

*Brrr!Brrr!Brrr!

Foto berhasil terupload dan secara persamaan ada telpon masuk dari kakak. Kuabaikan hal aneh yang terlintas dipikiranku dengan memberikan jawaban singkat,

(Kan aku model, mungkin dia kenal aku dari majalah mungkin.) 

Kuangkat telpon kakak untuk memamerkan teman baruku yang cantik padanya yang masih jomblo.

"Halo? Kak Marlin? Dengar, aku baru aja-" kalimatku langsung terpotong suara Kak Marlin yang dilanda panik

"KAU DIMANA?! ORANG YANG FOTO BARENG KAMU MANA?"

"Kak, tenang dulu, memangnya kenapa? jangan-jangan kakak jatuh cinta sama teman baruku itu ya?"

"PAULA, APA KAU LUPA? DIA ITU ANNASTASYA! BAGAIMANA KAU BISA BERTEMU DENGANNYA?!"

"Annastasya? Anna? Anna!! Oh, maksud kakak, si Kak Anna itu? pantesan kok dia keliatan g asing, orang yang udah nolak kakak kan? masa cuma liat fotonya aja udah gagal move on, dasar lemah ah kakak."saat aku bercanda tiba-tiba nada Kak Marlin menjadi serius.

"Aku tak pernah memberitaumu karena mungkin kau sudah melupakannya, tapi sebenarnya Anna sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Maka dari itu, cepat beritau aku dimana kau sekarang?"

 


 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar